Chronicle of Abijah: Winning an Impossible War

Dalam kitab 2 Tawarikh 13:1-22 dapat kita temukan kisah kepahlawanan Raja Abia, Raja Yehuda. Pasal tersebut menuliskan mengenai peperangan antara Abia melawan Yerobeam. Raja Yerobeam menyerang Yehuda dengan kekuatan 800 ribu pasukan terbaik, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa (ayat 3), sedangkan Raja Abia hanya memiliki 400 ribu pasukan.
Secara teknis, perang tersebut tidak mungkin dimenangkan oleh Yehuda. Akan tetapi kita tahu di akhir cerita, tidak hanya Raja Abia menang tetapi juga berhasil membunuh Raja Yerobeam dan merebut beberapa kota (ayat 19-20).

Dari pasal tersebut, kita belajar beberapa hal penyebab kekalahan Raja Yerobeam:
  1. Meremehkan janji Tuhan (ayat 8)
  2. Tidak beribadah kepada Allah (ayat 9) (ref: 1 Raj 12:25-33)
  3. Mengandalkan manusia dan melawan Allah (ayat 12)
Bertolak belakang dengan Raja Yerobeam, Raja Abia pertama-tama berpegang teguh pada janji Tuhan (ayat 5) yang saat itu oleh Raja Abia disebut "perjanjian garam". Tidak terlalu jelas apa yang dimaksud dengan perjanjian garam, di Alkitab hanya disebutkan 2 kali (selain di kitab Tawarikh), yakni di Imamat 2:13 dan Bil 18:19. Akan tetapi dari perjanjian garam di jaman itu, kita bisa belajar beberapa hal:
  • Garam bersifat antibiotik alami, oleh karena itu garam digunakan untuk menguduskan segala korban persembahan bagi Allah (khususnya korban sajian). Oleh karena itu perjanjian garam melambangkan bahwa perjanjian tersebut adalah kudus, bagi Allah.
  • Garam digunakan untuk mengawetkan karena sifat antibiotik yang terkandung dalam garam membuat segala mikroba pengurai tidak dapat hidup. Dengan demikian perjanjian garam melambangkan kekekalan perjanjian tersebut, sebuah perjanjian yang tidak mengenal kadaluarsa.
  • Perjanjian garam tentu melibatkan lebih dari 1 pihak. Oleh karena itu perjanjian tersebut mengandung konsekuensi (kutuk) bagi pihak yang melanggarnya.
Selain daripada itu, Raja Abia memelihara ibadah kepada Allah (ayat 10-11).
Banyak orang Kristen menganggap ibadah mingguan adalah sebuah rutinitas semata. Tidak heran bagaimana banyak orang Kristen terjebak dalam "rutinitas" jatuh-bangun dalam berbagai aspek kehidupan mereka, baik kerohanian pribadi, hubungan keluarga, karir dan usaha, bahkan pelayanan.
Orang Kristen kehilangan terobosan dalam kehidupan mereka secara pribadi dan bahkan kehilangan visi serta tujuan hidup oleh karena mereka membiarkan diri terjebak dalam rutinitas.
Bagi saya pribadi, lebih baik tidak usah menghadiri pertemuan ibadah/persekutuan apabila memang tidak ada tujuan/manfaatnya (2 Tim 3:5, 1 Tim 6:6).

Yang terakhir, Raja Abia memilih untuk mengandalkan Tuhan daripada meminta bantuan kepada sekutu, bahkan Raja Abia membuat para imam-imam Tuhan ikut berperang (ayat 12). Tentu persiapan harus ada akan tetapi sebelum semuanya itu, datanglah kepada Tuhan untuk berlindung kepadaNya.
Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! (Yer 17:5 TB)
Entah kenapa, banyak orang Kristen lebih memilih untuk mengandalkan manusia lewat pengetahuan, pengalaman, atau mungkin juga koneksi. Memang terkadang Tuhan memberi jawaban melalui orang-orang di sekitar kita, mengirimkan orang-orang tertentu untuk menolong kita. Akan tetapi dengan catatan kita mencari Tuhan terlebih dahulu, dan bagaimana kemudian cara Tuhan menolong adalah bukan bagian kita.


Live The Truth, be a happy Christian
ptz (uu,)

Comments

Popular posts from this blog

Bekerja Bagi Allah

A Teachable Heart

Being Aware to Self Enslavement