Money Management: Core Values

Di masa sekarang ini, banyak orang Kristen masih memiliki pemahaman yang tidak tepat mengenai keuangan. Banyak dari mereka berpendapat bahwa uang tidak berhubungan dengan kekristenan.
"Jangan mencampur adukkan uang dengan kerohanian."
"Prinsip-prinsip gereja ya hanya berlaku di gereja saja, tidak berlaku di tempat kerja"
Jadi apakah benar demikian? Jika tidak, bagaimanakah seorang Kristen mengelola keuangannya seperti yang Tuhan Yesus ajarkan di Alkitab?

1. God is the boss (owner), we are the manager
Mat 25:14-30 (Perumpamaan tentang talenta).
Dari perumpamaan yang diajarkan Yesus tersebut, kita belajar bahwa: Tuhanlah pemilik segala sesuatunya, kita hanya dititipi (dipercayakan).
Tentu saja seorang manajer keuangan punya kemampuan (ability) dan legalitas untuk melakukan berbagai transaksi dengan harta/uang yang dipercayakan kepadanya. Tetapi pada dasarnya, ia bertindak sebagai wakil (representative) dari pemilik harta/aset tersebut yang sebenarnya.
1. Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.
2. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. (Luk 16:1-2)
Dari ayat tersebut di atas, kita belajar bahwa Tuhan memang meminta pertanggung jawaban atas harta/uang yang dipercayakan dalam hidup kita.
Dengan demikian, kita tidak bisa seenak-enaknya saja menggunakan uang/harta yang kita punya.
23. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
24. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Mat 19:23-24)
Ayat tersebut memberi kesan seakan-akan Tuhan tidak menghendaki supaya kita berkelimpahan, hanya saja seringkali manusia malah kehilangan Tuhan demi mendapatkan harta duniawi.


2. Money is a good servant, but a bad master - Francis Bacon
Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." (Luk 16:9) 
Gunakanlah uang seperlunya saja, tidak perlu berlebihan.. Karena sama seperti masing-masing negara memiliki mata uangnya sendiri, demikian juga uang, surat berharga, dan logam mulia tidak diterima sebagai mata uang/alat tukar Kerajaan Allah.
Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perakpun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak. (Ul 17:17)
Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.(2 Tes 3:10)
Selama kita di dunia, bekerjalah dan menghasilkan uang untuk penghidupan yang layak dalam batas-batas yang sehat. Jangan sampai hidup kita dikendarai oleh uang, melainkan sebaliknya kita mengelola keuangan dengan baik untuk kelangsungan hidup kita.
Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Luk 16:11-13)
Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (1 Tim 6:10)
Seringkali kita berdoa kepada Tuhan mengenai masalah keuangan, seakan-akan uang lebih penting daripada Tuhan, dan kita hanya "butuh" Tuhan karena kita sedang membutuhkan uang.
Integritas dalam keuangan adalah salah satu indikator kerohanian yang sehat. Seorang sahabat pernah membagikan prinsip hidupnya kepada saya,
Apabila keuanganmu sehat, kerohanianmu juga sehat ~ Remmie BK

3. Our life is God's investment, be productive (fruitful)
27. Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
29. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (Mat 25:27,29)
"serta dengan bunganya" Ayat ini mengundang sebuah pertanyaan, bunga/interest/profit apakah yang diharapkan Tuhan? Benefit/profit apa yang Tuhan harapkan dengan mempercayakan kita lebih banyak uang? Apakah perpuluhan? Persembahan pembangunan?
Tentu saja bukanlah itu semua, melainkan apa yang senantiasa menjadi beban dan isi hati Tuhan yaitu jiwa-jiwa.
Hidup kita adalah investasi, apakah dengan dipercaya lebih banyak harta kita bisa berbuah? atau malah semakin menjauh dari Tuhan? Gunakan harta benda (sumber daya) yang dipercayakan dalam hidup kita untuk tujuan Kerajaan Allah, untuk menjangkau lebih banyak jiwa-jiwa bagi Tuhan.
Dalam Alkitab, banyak disebutkan bagaimana Tuhan menggunakan harta kekayaan kita untuk tujuan Kerajaan Allah.
Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea, (Rom 16:1)
Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. (Kis 16:14)
Febe tercatat sebagai seorang benefactor/donatur dalam pelayanan Paulus. Sedangkan Lidia adalah seorang pedagang (saudagar) kain ungu (barang mewah). Kedua orang tersebut adalah orang-orang yang dikaruniai dengan harta kekayaan berlimpah tetapi juga berperan besar dalam pekerjaan Tuhan.
Jadi, sejauh mana kita bisa dipercayakan untuk mengelola harta/berkat Tuhan?

4. Heavenly treasures do exist
Tuhan Yesus pernah mengajarkan sebuah perumpamaan tentang seorang kaya yang bodoh di kitab Luk 12:15-21. Sekali lagi, Tuhan tidak membenci orang kaya, tetapi Tuhan sedang mengingatkan bahwa harta duniawi sifatnya hanya sementara.
Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." (Luk 12:21)
20. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
21. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.(Mat 6:20-21)
Jadi, apakah yang Tuhan maksud dengan "harta di Sorga" ?? Tuhan memberikan sebuah "petunjuk" mengenai harta sorgawi dalam kitab Injil Luk 12:33.
Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. (Luk 12:33)
Pada intinya, harta sorgawi sama sekali tidak ada hubungannya dengan harta duniawi (uang, aset, kekayaan). Bahkan jika diperlukan, untuk membuktikan bahwa harta sorgawi tidak ada kaitannya dengan harta duniawi, Tuhan menyuruh kita untuk menjual segala harta milik kita.
PF: Apapun yang terjadi, percayalah Firman Tuhan.. jangan sampai kehilangan seluruh harta kekayaan baru percaya lolz

Last but not least! Karena sharing kali ini membahas mengenai keuangan, saya mau berbagi sebuah tips untuk mengelola keuangan yang Alkitabiah, barokah, dan amanah, yaitu:
Apapun yang terjadi, bayarkanlah perpuluhanmu! ~ ptz
Besar atau kecil, banyak atau sedikit, jangan pernah sekalipun melalaikan perpuluhan. Karena perpuluhan adalah mengembalikan hak/milik kepunyaan Tuhan, bukan "memberi" kepada Tuhan.

Live The Truth, be a happy Christian
-Ptz-

Comments

Popular posts from this blog

A Teachable Heart

Hijrah Malang 2011

Being Aware to Self Enslavement